Assalamualaikum Wr. Wb.
Perkenalkan nama saya
Narendra Hendi Mahardika, M.Pd. saya adalah Calon Guru Penggerak Angkatan 6
dari Kabupaten Sampang. Saya adalah guru mata pelajaran Bahasa Inggris di SMK
Nusa Sejati Kecamatan Camplong Kabupaten Sampang. Pada kesempatan kali ini saya
akan melakukan Koneksi Antar Materi pada modul 3.1 dalam Program Pendidikan
Guru Penggerak yang sudah saya pelajari.
“Mengajarkan
anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama
adalah yang terbaik”
(Teaching kids
to count is fine but teaching them what counts is best).
Bob Talbert
Dari kutipan di atas erat kaitannya
dengan pembelajaran yang sedang saya jalani di Program Pendidikan Guru
Penggerak ini yakni bagaimana caranya memberikan kualitas Pendidikan terbaik
untuk murid dan bisa menuntun murid sesuai kodrat yang dimilikinya.
Dalam Pendidikan, kami pasti akan
selalu dihadapkan kepada berbagai macam masalah yang mungkin nantinya akan
muncul opsi-opsi penyelesaian yang akan membuat kami bimbang karena sama-sama berdasarkan
nilai-nilai kebajikan universal. Namun setiap kali kami dihadapkan dengan
hal-hal semacam itu, kami harus memilih prinsip kami untuk mengambil keputusan kami
sendiri yang berdasarkan atas kepentingan murid, meskipun harus terpaksa
mengesampingkan pilihan lain yang tidak kalah baik dan juga menarik.
Education
is the art of making man ethical.
Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia
menjadi berperilaku etis.
~ Georg Wilhelm Friedrich Hegel ~
Kutipan lain datang dari Georg Wilhelm
Friedrich Hegel. Pendidikan itu jelas adalah sebuah seni, dan seni itu tidak
akan sama prosesnya namun tujuan akhirnya tetaplah sama yakni membuat sesuatu
menjadi indah. Di dalam Pendidikan pun juga demikian, sebagai pemimpin
terkadang harus membuat sebuah keputusan yang terkadang berbeda dengan kelompok
lain, namun pilihan keputusan tersebut adalah seni tersendiri dalam menjadi
pemimpin di dunia Pendidikan.
Pada kesempatan kali ini, saya akan
mengkoneksikan materi-materi yang sudah saya pelajari di dalam Program
Pendidikan Guru Penggerak hingga saat ini di antaranya:
- Bagaimana filosofi Ki
Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan
penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin? Ki
Hajar Dewantara dengan filsofi triloka memiliki pengaruh bagaimana seorang
guru memngambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Semboyan yang
pernah dicetuskan oleh KHD dan sampai saat ini masih menjadi landasan
berpijak pendidik adalah Ing Ngarso Sung Tulodho (Seorang pemimpin harus
mampu memberi tauladan), Ing Madya Mangunkarsa (Seorang pemimpin juga
harus mampu memberikan dorongan, semangat dan motivasi dari tengah), Tut
Wuri handayani (Seorang pemimpin harus mampu memberi dorongan dari
belakang). Hal ini berarti sebagai seorang pemimpin dan pengambil
keputusan, setiap keputusan yang kami ambil harusnya menjadi sebuah
penyemangat untuk orang lain terutama murid-murid kami. Karena dari sebuah
keputusan, pemimpin akan dijadikan tauladan bagi orang lain.
- Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri
kami, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kami ambil dalam pengambilan
suatu keputusan? Jelas itu akan sangat berpengaruh,
karena nilai-nilai yang tertanam dalam diri kami akan menumbuhkan dan
membentuk karakter kami sebagai individu. Dari karakter tersebut akan
membentuk jati diri kami sebagai seorang pemimpin dan itu jelas akan
mempengaruhi pengambilan keputusan yang kami buat.
- Bagaimana materi pengambilan keputusan
berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan
pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kami,
terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kami
ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah
ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kami atas pengambilan keputusan
tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’
yang telah dibahas pada sebelumnya. Hal ini sangat membantu dalam pengambilan keputusan. Pendampingan
kegiatan 'coaching' (bimbingan) oleh fasilitator dalam perjalanan proses
pembelajaran sangat efektif membentu pemahaman saya, terutama dalam
pengujian pengambilan keputusan. Beberapa contoh praktik coaching yang
baik memberi gambaran utuh untuk dapat diterapkan di sekolah.
Keputusan-keputusan dengan teknik coaching yang berlandaskan etika,
nilai-nilai kebajikan, sesuai dengan visi misi sekolah yang berpihak pada
murid dan menciptakan budaya positif dilingkungan sekolah. Teknik coaching
dengan kesetaraan tidak menggurui akan menimbulkan rasa nyaman
sehingga coach mampu mengidentifikasi permasalahan dan dapat
menyampaikan pertanyaan berbobot dari coachee.
- Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan
menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan
suatu keputusan khususnya masalah dilema etika? Kemampuan
guru dalam mengelola dan menyadari sosial emosional sangat mempengaruhi
pengambilan keputusan. Sosial emosional akan menumbuhkan empati dan
simpati bagi kami sebagai pendidik. Dengan simpati dan empati kami dapat
merasakan apa yang peserta didik alami, dan kami dapat mengidentifikasi
permasalahan dengan bijaksana, sehingga dalam pengambilan keputusan kami
dapat menggiring murid menciptakan terobosan yang inifatif dan kreatif
sebagai alternatif solusi dalam setiap pengambilan keputusan. Sebagai
pemimpin pembelajaran setiap keputusan harus berpihak pada murid, berbasis
etika dan nilai kebajikan dengan memetakan 4 paradigma dilema etika yaitu
individu vs masyarakat, rasa keadilan vs rasa kasihan, kebenaran vs
kesetiaan dan jangka pendek vs jangka panjang.
- Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus
pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut
seorang pendidik? Kasus-kasus yang telah
dibahas di dalam modul 3.1 ini sangat menarik dan menambah wawasan kami
sebagai calon guru penggerak. Hal ini sangat memberikan wawasan dan
pengalaman bagi kami dan nilai-nilai yang kami anut sebagai seorang
pendidik dan pemimpin pembelajaran. Kami bisa merefleksikan nilai-nilai
dalam kasus tersebut ke dalam nilai-nilai yang sudah kami pupuk di dalam
diri kami masing-masing.
- Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat,
tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif,
aman dan nyaman. Setiap keputusan pastinya tidak akan
membuat semua orang Bahagia dan menerima keputusan tersebut secara
langsung, akan ada sekolompok orang yang tidak akan sejalan dengan
keputusan yang kami ambil. Namun sebagai pemimpin kami harus berani
mengambil keputusan dengan memperhatikan orang lain agar tetap tercipta
suasana yang kondusif. Agar suasana kondusif itu tercipta, kami harus
selalu memperhatikan prinsip-prinsip dan paradigma pengambilan keputusan
yang sudah kami pelajari di modul 3.1 ini.
- Apakah tantangan-tantangan di
lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap
kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan
paradigma di lingkungan Anda? Tantangan-tantangan
dalam pengambilan keputusan di lingkungan kami tentunya pasti ada, di
antaranya lingkungan yang keras dan sulit mencerna pendapat dari orang
lain. Tentu dengan lingkungan seperti itu kami harus sangat hati-hati dalam
mengambil keputusan karena jika salah sedikit saja akan terjadi dampak yang
tidak begitu baik. Kami harus meminimalisir gesekan-gesekan agar keputusan
yang kami buat tidak menimbulkan kegaduhan.
- Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang
kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?
Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid
kita yang berbeda-beda? Pengambilan keputusan
yang baik tentunya keputusan yang mengedepankan kepentingan murid. Apa yang
terbaik bagi murid itulah keputusan yang terbaik. Dalam pengambilan
keputusan untuk murid tentunya kami harus berdasar kepada filosofi Pendidikan
Ki Hadjar Dewantara, yakni Pendidikan yang menuntun setiap kodrat yang
dimiliki murid kami.
- Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam
mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan
murid-muridnya? setiap pengambilan
keputusan akan membawa dampak baik jangka pendek VS jangka panjang bagi
murid-murid. Semua akan terekam dalam memori dan akan menjadi role model
bagaimana kelak murid -murid berpikir dan berpijak. Bagaimana dia
mengambil keputusan di masyarakat dikemudian hari. Pengambilan keputusan
bagi seorang pendidik harus keputusan yang tepat, benar dan bijak melalui
pengujian benar salah menggunakan lima uji yaitu uji legal, uji regulasi,
uji instuisi, uji publikasi dan uji panutan atau uji idola akan menjadikan
pengambilan keputusan kita akurat dan teruji sehingga tidak menyesatkan
murid-murid.
- Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda
tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan
modul-modul sebelumnya? Kesimpulan akhir yang
saya peroleh dari pembelajatana materi ini dan keterkaitannya dengan modul
sebelumnya adalah pengambilan keputusan adalah suatu kompetensi atau skill
yang harus dimiiki oleh guru dan harus berlandaskan kepada filosofi Ki
Hajar Dewantara yang dikaitkan sebagai pemimpin pembelajaran. Secara sadar
keputusan itu akan mewarnai pola pikir dan karakter bagi murid-murid. Pengambilan
keputusan harus bertujuan mewujudkan budaya positif dan menggunakan alur
BAGJA yang akan mengantarkan pada lingkungan yang positif, kondusif, aman
dan nyaman (well being). Suasana tersebut akan berdampak melejitkan
kompetensi baik itu pendidik maupun murid. Dalam pengambilan keputusan
seorang guru harus memiliki kesadaran penuh (mindfullness) untuk
menghantarkan muridnya. Murid yang cerdas dan berkarakter, menuju
profil pelajar Pancasila sesuai harapan kita semua. Dalam perjalanannya
menuju profil pelajar pancasila, ada banyak dilema etika dan bujukan moral
sehingga diperlukan panduan sembilan langkan pengambilan keputusan dan
pengujian keputusan untuk memutuskan dan memecahkan suatu masalah agar
keputusan tersebut berpihak kepada murid demi terwujudnya merdeka belajar.
Pembelajaran diferensiasi merupakan salah satu bentuk merdeka belajar,
karena dengan pembelajaran berdiferensiasi maka kebutuhan murid terpenuhi
sesuai bakat, minat dan kecenderungan gaya belajarnya. Pembelajaran
kokulikuler juga salah satu implementasi untuk mewujudkan karakter pelajar
Pancasila. Berbagai tema dan dimensi yang disiapkan memungkinkan murid
terbiasa dengan nilai-nilai positif dan pada akhirnya menjadi
pembiasaan.
- Sejauh mana pemahaman Anda tentang
konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika
dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip
pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan.
Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?
Yang saya fahami dari konsep-konsep modul ini adalah Ada 4
paradigma pengambilan keputusan; Individu lawan masyarakat, kebenaran lawan
kesetiaan, keadilan VS belas kasihan, Jangka Pendek VS jangka Panjang.
Sedangkan Ada 3 prinsip mengambil keputusan; berfikir berbasis akhir, berfikir
berbasi aturan, berfikir berbasi rasa peduli. Adapun 9 tahapaan
pengambilan dan pengujian keputusan; Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang
salingbertentangan, Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini, Mengumpulkan
fakta-fakta yang relevan dalam situasi ini, Pengujian benar atau salah (uji
legal, uji regulias, uji instuisi, uji publikasi, uji panutan/idola), Pengujian
paradigma benar atau salah, Prinsip pengambilan keputusan, Investigasi tri lema,
Buat keputusan, meninjau kembali keputusan dan refleksikan. Hal-hal yang
menurut saya diluar dugaan adalah ternyata dalam pengambilan keputusan bukan
hanya berdasarkan sesuai pemikiran saja namun perlu melihat 4 paradigma, 3
prinsip dan melakukan 9 langkah pengujian pengambilan keputusan. Selama ini
saya berpikir terlalu cepat dan reaktif sehingga keputusan yang saya ambil
perlu ditinjau kembali agar tidak merugikan banyak orang.
- Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda
menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral
dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di
modul ini? Belum Pernah
- Bagaimana dampak mempelajari konsep ini
buat Anda, perubahan apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil
keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini? Konsep
yang saya pelajari memberikan dampak luar biasa bagi pola pikir saya.
Sebelum bertemu dengan modul ini saya berpikir bahwa pengambilan keputusan
hanya berdasarkan regulasi saja. Ternyata banyak hal yang menjadi dasar,
ada 4 paradigma dilemma etika yaitu: individu lawan kelompok (individual
vs community), rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy),
kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty), jangka pendek lawan jangka
panjang (short term vs long term). Serta konsep pengambilan dan pengujian
keputusan, sehingga saya lebih yakin dengan apa yang sudah saya tetapkan sebagai
satu keputusan.
- Seberapa penting mempelajari topik modul ini
bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin? Bagi
saya materi pada modul 3.1 sangat penting dan bermakna. Di lingkungan
sekolah guru sebagai pemimpin pembelajaran dan sebagai warga sekolah
banyak keputusan yang akan dikeluarkan menghasilkan kebijakan -kebijakan
yang akan mewarnai perjalanan sekolah untuk mewujudkan merdeka belajar dan
profil pelajar Pancasila. Guru harus memiliki keterampilan pengambilan
keputusan untuk dapat mewujudkan itu semua. Keputusan yang bernilai
kebajikan dan mampu mengimplementasikan 9 langkah pengambilan keputusan,
sesuai 4 paradigma 3 prinsip penyelesaian dilemma serta
tiga uji yang sejalan dengan prinsip pengambilan keputusan yaitu:
Uji Intuisi berhubungan dengan berpikir berbasis peraturan (Rule-Based
Thinking), Uji publikasi, sebaliknya, berhubungan dengan berpikir berbasis
hasil akhir (Ends-Based Thinking) yang mementingkan hasil akhir dan Uji
Panutan/Idola berhubungan dengan prinsip berpikir berbasis rasa peduli
(Care-Based Thinking), dimana ini berhubungan dengan golden rule .
Demikian koneksi antar materi yang saya paparkan, saya menyadari masih
sedikit ilmu yang saya peroleh untuk itu mohon masukan dan informasi
mendalam untuk perbaikan. Saya berharap selalu dapat memperbaiki proses
menjadi lebih baik, karena saya yakin proses tidak akan menghianati hasil.

Benar sekali, materi ini sangat bermanfaat bagi kita dalam menentukan pilihan lebih-lebih apabila dikoneksikan dg modul-modul sebelumnya, seperti nilai guru penggerak, PSE, praktik coaching dan materi-materi lainnya
ReplyDeletePemaparan cukup representatif mengkaitkan materi yang telah dipelajari pada modul sebelumnya dan hasil yang telah didapatkan selama mengiktui PPGP hingga modul 3.1. ini dalam refleksi diri.
ReplyDelete