Aksi Nyata Budaya Positif di Sekolah
Oleh: Narendra Hendi Mahardika, M.Pd
Menciptakan
Budaya Positif di sebuah sekolah merupakan langkah utama untuk membuat
lingkungan sekolah yang aman dan nyaman untuk proses belajar mengajar. Setiap
elemen sekolah dari siswa, guru, staf, dan juga kepala sekolah perlu berperan
aktif di dalam menciptakan budaya posited di sekolah, karena budaya positif ini
akan tercipta jika semua pihak berkomitmen dan bersinergi bersama-sama. Dari
budaya positif inilah maka akan tercipta lingkungan belajar yang positif, aman,
dan nyaman sehingga semua pihak merasa betah tinggal di sekolah untuk
melaksanakan segala aktifitas sekolah.
Ki Hadjar Dewantara mengutarakan
bahwa tujuan Pendidikan itu adalah menuntun kodrat yang ada pada anak, seperti
yang kita ketahui bahwa setiap anak itu telah memiliki kodrat dalam dirinya,
kita sebagai guru tidak bisa mengubah kodrat tersebut, melainkan hanya bisa
menuntun dan mengarahkan anak agar anak bisa menjadi versi terbaik dari
dirinya. Dalam proses menuntun tersebut anak diberi kebebasan dan guru berperan
sebagai pamong yang tugasnya untuk menuntun dan mengarahkan agar anak tidak
kehilangan arah dan membahayakan dirinya sendiri. Guru diilustrasikan sebagai petani
dan anak diilustrasikan sebagai berbagai macam benih tumbuhan yang siap untuk
ditanam. Guru di sini hanya bisa merawat tanaman-tanaman tersebut agar bisa
tumbuh subur, bukan mengubah kodratnya. Tanaman jagung akan tumbuh menjadi
jagung, tanaman padi akan tumbuh menjadi padi, tanaman kedelai akan tumbuh
menjadi kedelai, dan seterusnya. Guru hanya bisa merawat dan menemani tanaman
itu sampai menjadi tanaman dengan kualitas terbaik sesuai kodrat benihnya saat
ditanam.
Dari apa yang sudah dijabarkan oleh
Ki Hadjar Dewantara tersebut, maka guru penggeraklah yang diharapkan untuk
bergerak dan menggerakkan seluruh elemen sekolah agar tercipta lingkungan
belajar yang baik dan terwujudnya profil pelajar Pancasila yakni beriman dan
bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan berakhlaq mulia, mandiri, bergotong
royong, berkebinekaan global, bernalar kritis, serta kreatif. Dari guru
penggerak inilah yang akan menjadi tumpuan Pendidikan Indonesia di masa depan,
guru penggerak memiliki beberapa peran seperti menjadi pemimpin pembelajaran,
menjadi coach bagi guru lain, mendorong kolaborasi, mewujudkan kepemimpinan
murid, serta menggerakkan komunitas praktisi. Adapun guru penggerak juga
diharapkan memiliki nilai seperti berpihak pada murid, mandiri, reflektif,
kolaboratif, dan juga inovatif. Guru penggerak juga diharapkan memiliki dan
merumuskan visi tersendiri dengan tidak membahas hal-hal negatif yang telah
terjadi di sekolah, namun harus fokus pada kekuatan atau aset positif yang ada
di sekolah, hal itu yang nantinya akan menjadi dasar bagi guru penggerak untuk
merumuskan visinya. Agar lebih terstruktur dalam merumuskan visi maka
digunakanlah tahapan BAGJA, yakni dimulai dengan Buat pertanyaan utama, lalu
Ambil pelajaran, Gali mimpi, Jabarakan rencana, dan Atur eksekusi. Tahapan-tahapan
tersebut harus dilakukan secara runtut dan jika bisa dilakukan saat pikiran
sedang jernih agar nantinya benar benar tercipta visi yang baik dan sesuai
dengan aset yang dimiliki sekolah.
Setelah memahami paradigma pemikiran
Ki Hadjar Dewantara, peran dan nilai guru penggerak, dan memahami bagaimana
merumuskan visi yang baik, maka guru penggerak diharapkan mampu menciptakan
budaya positif di sekolahnya. Guru penggerak diharapkan mampu menanamkan
nilai-nilai kebajikan universal dan juga disiplin positif utamanya di
lingkungan sekolahnya. Nilai-nilai kebajikan universal ini berarti nilai-nilai
kebajikan yang telah disepakati bersama untuk dilaksanakan bersama-sama.
Nilai-nilai kebajikan universal ini nantinya akan dijabarkan menjadi keyakinan
kelas ataupun keyakinan sekolah sebagai pedoman bagi semua warga sekolah.
Sedangkan tujuan disiplin positif adalah menanamkan motivasi untuk menjadi
orang yang mereka (siswa) inginkan dan menghargai diri sendiri dengan
nilai-nilai yang mereka percaya. Untuk menjaga disiplin positif dan dan
nilai-nilai kebajikan universal yang berupa keyakinan kelas ataupun keyakinan
sekolah, guru harus memahami bagaimana cara untuk mengatasi bila nantinya akan
ada siswa yang berprilaku tidak sesuai dengan keyakinan kelas atau keyakinan
sekolah yang telah disepakati. Siswa yang berprilaku tidak sesuai dengan
keyakinan kelas atau keyakinan sekolah ini biasanya disebabkan oleh tidak
terpenuhinya salah satu atau beberapa kebutuhan dasar hidupnya, Adapun beberapa
kebutuhan dasar hidup manusia adalah kebutuhan bertahan hidup, kasih saying dan
rasa diterima (kebutuhan untuk diterima), penguasaan (kebutuhan pengakuan atas
kemampuan), kebebasan (kebutuhan akan pilihan), dan kesenangan (kebutuhan untuk
merasa senang). Guru harus memahami lima posisi kontrol dan juga teori segi
tiga restitusi. Posisi control paling ideal adalah posisi control sebagai
manajer. Posisi control sebagai manajer ini guru ditempatkan untuk berbuat
sesuatu bersama dengan murid, mempersilahkan murid untuk mempertanggung
jawabkan prilakunya, mendukung murid agar bisa menemukan solusi atas
permasalahannya sendiri. Tindakan-tindakan guru sebagai posisi control manajer
itu nantinya akan diwujudkan dalam mengajukan beberapa pertanyaan pada siswa
berdasarkan teori segitiga restitusi. Ada tiga tahapan dalam melaksanakan teori
segitiga restitusi, yang pertama adalah menstabilkan identitas, dalam proses
ini guru memberitahukan kepada siswa bahwa berbuat salah itu adalah hal normal
dan juga setiap manusia pasti pernah melakukan salah karena manusia tidak ada
yang sempurna termasuk guru-gurunya, lalu guru juga menegaskan tidak akan
mencari-cari kesalahan namun harus fokus mencari solusi dari permasalahan
tersebut bersama-sama. Langkah yang kedua yakni Validasi Tindakan yang Salah,
dalam tahapan ini guru menanyakan alasan mengapa siswa berprilaku tidak sesuai
dengan keyakinan kelas/sekolah, guru juga bisa mengatakan bahwa siswa tersebut
bisa melakukan sesuatu yang lebih buruk lagi namun untungnya hal itu tidak
dilakukan, dan menyampaikan bahwa hal itu harus tetap dipertahankan namun harus
ditambah sikap yang baru yang lebih baik lagi. Sedangkan tahapan terakhir
adalah Menanyakan Keyakinan, dalam tahapan ini guru mengingatkan Kembali
nilai-nilai umum atau keyakinan kelas/sekolah yang telah disepakati bersama,
guru menanyakan kepada siswa solusi agar siswa tersebut tidak berprilaku yang
bertentangan dengan keyakinan kelas/sekolah, dan guru menanyakan dan meyakinkan
kembali kepada siswa tersebut mulai saat itu dia akan menjadi siswa yang
bagaimana dan seperti apa.
Dari berbagai konsep di atas yang
telah saya jabarkan sesuai dengan pemahaman saya dalam mengikuti Program
Pendidikan Guru Penggerak dari modul 1.1 sampai modul 1.4. saya telah melakukan
beberapa peran dalam menciptakan budaya positif di sekolah. Perlu diketahui
sebelumnya saya telah merumuskan visi saya sebagai guru penggerak melalui
tahapan-tahapan BAGJA, di mana visi tersebut adalah “Mewujudkan siswa yang
berakhlaq mulia, cinta tanah air, dan siap kerja.”. dalam visi terebut saya
mengharap siswa saya memiliki akhlaq yang mulia, akhlaq mulia ini biasanya
terjabarkan dalam keyakinan kelas atau keyakinan sekolah yang disepakati
bersama sama antar kepala sekolah, guru dan juga siswa. Peran saya adalah
sesudah mempelajari modul tentang budaya positif ini, saya mengajak siswa untuk
melihat kembali keyakinan kelas yang sudah ada yang sebelumnya dibuat oleh guru
dan kepala sekolah tanpa melibatkan siswa. Saya menanyakan kepada mereka
poin-poin yang mana di anatar keyakinan kelas yang sudah ada yang tidak sesuai
dan sulit dilaksanakan oleh mereka, serta apakah ada yang perlu ditambahkan
pada keyakinan kelas tersebut. Pada saat melaksanakan diskusi ternyata ada
beberapa siswa yang keberatan tentang poin sepatu harus berwarna hitam polos.
Menurut mereka sepatu hitam polos itu biasanya agak mahal, sedangkan kondisi
ekonomi siswa-siswa saya adalah ekonomi menengah ke bawah, tak jarang mereka
tidak punya uang saku, bahkan ada yang kadang sampai tidak sekolah karena
bekerja sebagai kuli tembakau dan lembur sampai pagi. Sepatu pun mereka kadang
diberi sepatu bekas oleh saudara ataupun tetangga, kadang juga ada yang memakai
sandal karena memang tidak bisa membeli sepatu. Jadi jika mereka harus membeli
apalagi membeli yang agak mahal maka mereka menyatakan kesulitan memenuhi poin
keyakinan kelas tersebut. Dari beberapa aspirasi siswa tersebut saya
berkonsultasi dengan kepala sekolah dan juga rekan sejawat, memberitahukan
kondisi-kondisi yang dihadapi siswa-siswa tersebut, maka disepakati bersama
bahwa siswa boleh memakai sepatu selain warna hitam polos asalkan tidak memakai
sandal, sedangkan siswa yang belum mampu membeli sepatu dan masih belum
memiliki sepatu maka kepala sekolah akan mendiskusikan dengan Yayasan mungkin
ada penyelesaian yang memungkinkan.
Setelah merevisi keyakinan kelas
yang sudah ada bersama siswa, hati saya merasa lega. Hal-hal yang belum
terjawab di benak saya selama ini mengapa siswa-siswa masih sering melanggar
keyakinan kelas tentang sepatu warna hitam polos ini masih sering dilanggar
akhirnya terjawab. Ternyata membuat keyakinan kelas/sekolah itu haruslah
seperti ini, tidak boleh terlalu idealis dan terkesan egois tanpa memperhatikan
keadaan siswa. Konsep merumuskan keyakinan kelas ini merupakan sebuah konsep
yang sangat berarti yang saya dapatkan dalam modul ini.
Sedangkan terkait posisi kontrol sebelum mempelajari modul budaya positif ini, saya biasanya memposisikan diri sebagai penghukum, ketika ada siswa yang melanggar keyakinan kelas/sekolah biasanya saya akan memberi hukuman dengan cara menyuruh siswa berdiri di depan kantor, ataupun biasanya menyuruh siswa membersihkan seluruh ruangan di sekolah. Namun setelah saya mempelajari teori lima posisi kontrol, saya mencoba memposisikan diri saya sebagai manajer, berawal dari siswa yang sering melanggar tidak memakai sepatu hitam polos, akhirnya saya tahu alasan dibalik itu. Dengan menerapkan posisi kontrol sebagai manajer dan menerapkan langkah-langkah segitiga restitusi, membuat siswa lebih terbuka dan bersedia mencari solusi atas kesalahannya sendiri. Hal ini belum saya lakukan sebelumnya, saya melakukannya hanya setelah mendapat materi pada modul budaya positif ini.

Ketelatenan dan usaha keras seorang guru betul-betul dibutuhkan untuk tercapainya budaya positif di sekolah
ReplyDeletesemoga kita menjadi teladan bagi guru guru yang sehingga budaya positif ini bisa diterapkan secara menyeluruh disekolah
ReplyDeletesangat Inspiratif
ReplyDelete